Memperingati Perang Kamang

Perang Kamang adalah perlawanan masyarakat Sumatra Barat terhadap Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1908, tepatnya 113 tahun lalu, berpusat di daerah Kamang, Kabupaten Agam.

Meletusnya perang di awal abad ke 20 di Sumatera Barat merupakan bentuk perlawanan rakyat terhadap penetapan pajak (Belasting) oleh pihak Belanda. Beberapa daerah yang melakukan perlawanan termasuk salah satunya daerah Kamang yang merupakan daerah yang pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda yang akhirnya juga menimbulkan reaksi yang sama di beberapa daerah lain yang ada di Sumatera Barat. Rakyat Kamang menentang keras penetapan Belasting yang sangat merugikan rakyat sehingga rakyat telah merencanakan perlawanan dengan menyusun taktik dalam menghadapi Belanda yang menetapkan kebijakan tanpa meminta kesepakatan dari rakyat. Tujuan dari penelitian adalah 1, )Untuk mengetahui sebab terjadinya perang Kamang 2,)Untuk mengetahui bagaimana jalannya perang Kamang 1908, 3) Untuk mengetahui bagaimana akhir dari perang Kamang 1908,4) Untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dengan adanya perang Kamang 1908. Adapun penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah (History) dan teknik pengumpulan data berupa kepustakaan, dokumentasi, observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penolakan dan perlawanan atas penerapan pajak membuat kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan penyerangan dimalam hari serta terbunuhnya pemimpin perang dari pihak rakyat Kamang. Patriotisme masyarakat terlihat dari semangat mereka melawan Belanda dengan keterbatasan peralatan perang.

Berakhirnya Perang Kamang Perang berakhir ketika subuh sudah mulai datang dan ayampun berkokok yang menandakan hari sudah mulai pagi. Ketika itu rakyat Kamang mendapatkan perlawanan dari sekelompok kecil pasukan Belanda. Dari jurusan arah timur perangpun berkecamuk antara pasukan Kari Mudo dan pasukan musuh yang berlangsung lebih kurang seperempat jam dan setelah itu berhenti. H. Jabang mengucapkan takbir beberapa kali yang dijawab pula dengan takbir dari jurusan timur Simpang Anak Limau (Koto Panjang) yang makin lama makin mendekat sehingga H. Jabang dan Kari Mudo bertemu dan mereka gembira karena telah berhasil melawan pasukan yang dipimpin langsung oleh Westenenk meskipun tidak dapat menemukan dimana keberadaan Westenenk.

 

Kerjasama

Kerjasama dengan perusahaan, lembaga, instansi, dll.